Welcome to our site

welcome text --- Nam sed nisl justo. Duis ornare nulla at lectus varius sodales quis non eros. Proin sollicitudin tincidunt augue eu pharetra. Nulla nec magna mi, eget volutpat augue. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Integer tincidunt iaculis risus, non placerat arcu molestie in.

Kamis, 16 Februari 2012

Aku lihat masjid-masjid terapung di lautan
Adzan menggema di langit
Orang-orang sholat di awan
Berdzikir di kebut malam
Aku dengar orang-orang berkhotbah
Di jok blakang mobil sedan
"Kita harus hidup sederhana!"

Maka aku lihat anak-anak belajar tawuran
Guru-guru memeberi contekan
Gadis-gadis berdandan setengah telanjang
Sekolah-sekolah dirias untuk menampung pengangguran
Buku-buku tak masuk akal diperjual belikan

Kudengar pejabat-pejabat sulit makan barang halal
Seragam-seragam jumawa simbol kemewahan
Kemisknan dan kebodohan di proyekkan
Undang-undang dipermainkan
Tangis rakyat dinyanyikan

Aku lihat pengemis-pengemis main kasar
Aku dengar penyelewengan di maklumkan
Aku lihat petani-petani diperbudakkan
Aku dengar kebenaran di asingkan
Aku lihat toko-toko mewah diresmikan
Aku dengar jerit tangis orang-orang tak berpenghasilan

Aku lihat
Aku dengar
Aku benar !

Minggu, 05 Februari 2012

Semenjak putus cinta
Merana hati... kekasih yang termanis
Kini telah hilang
Menjauh mimpi indah
Bersama engkau
Takdir tidak seperti yang kukira
Puaskah kau disana
Melihat siksaku
Sakit tak ujung reda
Bila ingat engkau
Kapan cahaya cinta menerangi
Jiwa yang haus kasih sayang tulus

Tak bisa kubiarkan semua ini
Mempermainkanku membawaku jatuh
Tak mau hidupku dihancurkanmu
Kuharus lupakan keberadaanmu

Dengarlah oh Tuhan suara kecewaku
Temukan dengan dia
Yang jadi rumah jiwaku

  Suara gemericik air hujan yang membanting genting rumah terbuat dari ijuk, membangunkan aku dari tidurku. Menguap, dan mencoba melenyapkan rasa kantukku. “kemana ibu?” tanyaku dalam hati. “Tidak seperti biasanya ibu seperti ini”. Aku segera berjalan menuju pintu rumah, dan melongok ke luar rumah. Hujan disertai awan hitam pekat nan guntur yang menggelegar. Angin dingin yang menerpa kulit sawo matangku, hingga menusuk ke dalam tulangku yang kering. Tetap tak kujumpai ibu. “Tuhan, jika Kau sayang padaku ini, tolong tunjukkan ibu pada hamba, Tuhan”. Doaku yang khusyuk kepada Shang Hyang Widari. Tak lama kemudian, ada banyak warga  yang berlarian menuju rumahku, dan memanggil-manggil namaku. “Tina…. Tinaa…” teriak salah seorang warga. Aku langsung memandang mereka dengan tampang bingung. Baju-baju mereka basah kuyup, seakan tak peduli dengan hujan yang begitu menguasai sore, cekungan tanah becek berkecipak terkena telanjang telapak kaki warga, dan terdengar nyanyian katak yang merdu dari balik batang padi yang mulai menguning. Bapak sudah lama meninggal. Kini hanya aku dan ibu yang mewarisi harta bapak satu-satunya, yaitu rumah gedhek kecil yang dulu hanya cukup ditempati oleh ayah, aku dan ibu. Kini penghuni rumah tua nan reyot itu hanya aku dan ibu. Kulihat dari kejauhan, ibu dibopong oleh salah seorang warga. Aku sangat terkejut melihat hal itu. Aku langsung berlari menuju Pak Dirman, warga yang menggendong ibu. Aku segera mempersilakan untuk membaringkan ibu pada sebuah ambenbambu yang dibuatkan bapak ketika aku masih berumur tujuh tahun.
            Aku berlari kecil menuju dapur, dan mengambilkan ibu segelas air putih. Setelah aku meminumkan, ibu tersenyum tulus kepadaku. Senyum seorang ibu yang sangat bangga mempunyai anak sudah remaja. “Kamu sudah besar, nak. Kini kamu sudah bisa merawat ibu. Maaf ibu selalu merepotkanmu, sayang”, ibu berkata seperti itu sambil menteskan air mata. Seakan tak ingin jika aku meninggalkan dirinya. Aku sangat terharu melihat ibu menangis seperti itu. “Ibu, dengarkan aku. aku sudah besar. Tak seharusnya lagi aku bertingkah seperti anak kecil. Dan kini saatnya aku yang memperhatikan ibu. Ibu sekarang sudah mulai dimakan usia. Ibu duduk manis saja di dalam rumah. Biar aku yang menggantikan tugas ibu di sawah”. Kataku sembari memeluk ibu. Dekapannya sangat hangat. Dekapan khusus dari ibu untuk anak. Kini aku mulai mengerti, aku sudah dewasa. “Tuhan, buatlah aku mengerti akan keadaan seperti ini” doaku dalam hati. Aku berjalan dengan gontai menuju ruangan kecil, yang hanya berisikan sebuah tempat tidur tanpa kasur dan almari yang hanya berisikan debu. Karena baju kami memang tak begitu banyak. Aku duduk di samping almari itu, duduk bersandargedhek yang reyot, beralaskan tanah, beratap tumpukan ijuk yang sudah saatnya ganti. Di luar, hujan turun lagi. Harum tanah yang terkena percikan air, semilir angin dari lembah gunung yang membawa kesejukan abadi, mulai masuk melalui celah ghedhek yang sudah berumur. Tanah yang kududuki semakin basah. Aku segera menuju ranjang yang tak jauh dari tempatku duduk. Terenyuh dengan keadaan ekonomi yang sangat serba kekurangan. Aku berharap, Tuhan mendengar suara kepedihanku.
            Aku bangun dengan pagi yang cerah. Senyum matahari yang yang mencoba menerobos masuk melalui celah dinding rumah, dan mencoba masuk berdesakan dengan kawan-kawannya lewat tumpukan ijuk yang dibuat atap rumah oleh ayah. Aku mulai bangkit dari tidurku, mencoba memanggil ibu. Tapi, pita suaraku tidak dapat menghasilkan secuipun suara. Tapi terdengar suara saruk-saruk orang berjalan. Ternyata, ibu pulang belanja dari pasar. Kulirik langit tadinya cerah, kini ternoda oleh kelabu-kalabu mendung yang pekat. Melihat, merasakan, dan mendengar. Sepertinya ada keterkaitan bathin antara aku, mendung, hujan, serta langit yang hitam. “Ibu, perasaanku kok ndak enak yaa?” tanyaku kepada ibu. “Nggak enak gimana sih?” Tanya balik ibu. “ndak jadi bu”. Aku langsung berlari menjauh dari ibu. Jantungku berderu kencang, sekencang angin yag bertiup di luar rumah. Aku mulai melamunkan apa yang terjadi pada diriku sendiri. “Apa yang seharusnya aku lakukan? Mengapa setiap hujan akan turun, aku mempunyai perasaan yang tak enak seperti ini? Galau hatiku” kataku di dalam hati.
            “Tina…..” teriak ibu dari dapur.
            “Iya bu?” sahutku sembari aku berjalan dengan langkah tergesa menuju dapur.
            “Tolong belikan ibu garam, nak. Tadi ibu lupa membelinya. Tak apa kan?” Tanya ibu sambil memandang penuh arti wajahku.
            “Tak apa, Bu. Bahkan dengan senang hati aku membantu ibu,” senyumku kepada ibu. Ibu juga membalas senyumku lebih tulus. Aku segera menuju warung di belakang rumah. Aku menukarkan uang sekeping lima ratusan dengan sebungkus garam untuk ibu. Di tengah perjalanan, aku diserbu percikan-percikan air hujan yang turun dari langit. Aku berjalan dengan sedikit berlari. Karena lama-kelamaan hujan tidak tambah reda, tetapi bertambah deras. Perasaanku semakin tak menentu, tiba-tiba kepalaku pening, garam yang ku genggam tiba-tiba terjatuh. Aku terjatuh hingga mencium tanah yang mulai melembap. Aku merintih kesakitan. Lututku mulai mengucurkan darah segar, karena gigi-gigi batu yang tajam melukai kulit lututku. Aku merintih kesakitan. “Sepertinya hujan ini yang selalu membawa bancana dalam kehidupanku”, bisikku dalam hati. Aku bangkit dan berdiri, mengemas garam pesanan ibu. Kuserok dengan telapak tangan yang basah terkena tetes butiran air hujan. Garam yang kuambil kini sudah mulai menjadi air. Air garam yang ada pada genggamanku sekarang, bukan lagi kristal-kristal garam. Kuambil buliran garam yang masih padat, kuamati secara teliti. Hujan dari langit tak ujung reda. Itu yang menyebabkan garamku menjadi air. Buliran-buliran garam yang terkena air akan menjadi air. Karena garam ini berasal dari air laut yang dikeringkan.
            Kubiarkan garam menjadi air lagi. Aku segera berdiri dari jongkokku. “Pasti ibu mengkhawatirkan aku”. Kataku dalam hati. Sesekali aku melirik langit yang masih tetap murka terhadapku. Seakan-akan aku mempunyai banyak salah terhadapnya. Sambil tersenyum gembira akan kelicikan yang telah dia perbuat terhadapku. Belaian tetesan air hujan menyentuh kulitku, memberi rasa sayang terhadapku, dan membelai rambutku dengan penuh rasa cinta. Aku merasakan kasih sayangnya. Aku sudah berumur remaja, masa-masa yang akan terlewati setelah tumbuh menjadi dewasa. Dan dalam masa remaja inilah, aku mulai mengenal cinta. Ya, aku telah jatuh cinta pada hujan. Dan sejak saat itu, aku telah menyatakan cintaku pada hujan. “Hujan, aku mencintaimu dengan tulus. Aku hanya mau menikah denganmu. Tiada yang lain” kataku kepada hujan. Pada saat yang sama, percikan air dari langit berubah menjadi suasana yang sangat romantis. Tidak lagi ada badai, guntur yang bergemuruh, dan angin yang berhembus kencang. “Hujan, apakah kamu juga mencintaiku?” tanyaku. Kemudian tetesan air menjadi reda, sepuluh detik, sebelas detik. Lalu, tetesan air itu berjatuhan lagi. “Apakah itu jawabanmu, hujan? Katakan padaku, ya atau tidak?” Imbuhku kepada hujan. Hujan tetap tak mau menjawab. Aku termenung sejenak. Lalu, pikiranku menalar kepada ibu di rumah. “Ya ampun! Ibu…!” sontak aku langsung bangkit dan berlari menuju rumah.
            Setelah sampai rumah, hujan mulai reda. Tidak ada suasana memasak dari luar rumah. Biasanya kalau ibu memasak, harumnya sampai dari jalan depan rumah. Aku semakin curiga dengan hal ini. Aku menambah kecepatan berjalanku. Membuka pintu depan rumah, mengucapkan salam, dan langsung nyelonong. Bak tamu yang belum dipersilakan duduk tetapi sudah duduk. Setelah sampai di pintu dapur, aku dikejutkan dengan adanya ibu yang tengah terbaring di atas alas rumah. Aku menjerit minta tolong. Selang beberapa waktu, beberapa orang tetangga berlarian menuju rumahku. Mengangkat dan menggendong ibu keluar dari rumah. Dan segera dilarikan ke balai kesehatan. Memang, desa kami jauh dari kota. Tak ada yang namanya PUSKESMAS dan dokter-dokter yang membuka praktek setiap harinya. Yang ada hanya sekedar mantri kesehatan. Itupun bukanya setiap hari Senin dan Rabu saja. Lain hari itu, pasti semua warga yang membutuhkan pengobatan dibawa ke dukun atau orang pintar. Untuk ibu,untung kali ini ada mantri yang sedang kerja. “Bagaimana keadaan ibu saya, pak?” Tanyaku dengan nada yang berat. Pak Bagas, mantri yang memeriksa ibu hanya diam. “Pak, Bagaimana keadaan ibu saya?” kuulang pertanyaan itu. Pak Bagas menatapku dengan sorot  mata yang teduh, dan kulihat ada seulas senyum tulus di bibirnya. Tarik nafasnya berat, seperti berat akan mengatakan sesuatu kepadaku. Aku menangkap hal ini. Air mataku menetes. “jangan bilang ibu saya meninggal, pak.” Desahku. “Maaf, memang itu kenyataannya, Tina. Aku berharap kamu bisa terima kenyataan ini.” Mendengar perkataan yang diucapkan Pak Bagas, aku segera berlari ke halaman belakang pos kesehatan. Duduk di atas batu yang menawarkan tempat duduk untukku. ini semua memang kenyataan, ibu pergi tinggalkan dunia fana. Kehilangan ibu memang menyakitkan nurani, separuh nyawaku terbawa menyisakan perih yang mendalam di hatiku. “Tina, mari ibu kita bawa pulang. Lantas, kita kebumikan tepat di samping liang lahat ayahmu.” Teriak Pak Dirman. Aku segera bergegas menuju ruang depan, tempat ibu dibaringkan dan diperiksa oleh Pak Bagas. Aku mengiringi di belakang Pak Dirman, yang tengah mengangkat tubuh ibu, untuk dibawa pulang. Setelah sampai rumah, aku dan Bu Ratih, istri Pak Dirman, memakaikan kain yang dililitkan ke tubuh ibu. Setelah itu, ibu langsung dibawa ke makam. Beberapa orang warga menggali ling lahat untuk ibu disemayamkan. Aku ngeri melihat jasad ibu yang akan dimasukkan ke dalam lubang galian. “Pasti ibu di dalam tidak ada temannya” pikirku. Setelah galian ditutup kembali dengan tanah, warga segera kembali pulang ke rumah masing-masing. Aku tetap menunggu di pinggir gundukan tanah. Tanganku mengelus kayu yang menancap di ujung gundakan itu, dan tertera nama ibu “SULASMI”. Aku masih tidak paham dengan ini semua.
            Aku kembali ke rumah dengan langkah gontai dan tarikan nafas yang tidak menentu. Kubuka pintu rumah yang hampir roboh. Ku ingat, tepat di gawangan pintu ini, ibu selalu mengelus rambutku setiap aku hendak akan tertidur. Lalu,ibu mencium keningku, dan mengelus sekali lagi rambut hitamku. Tepat aku berdiri di sini, di ruang tengah. Ku ingat, ketika hatiku sedang galau, ibu selalu menemaniku. Aku melangkah lagi. Aku sampai di dapur. Dan di dapur ini, aku pernah bertengkar hebat dengan ibu. Tanpa sengaja ibu melukai lengan kiriku dengan sudip yang panas. Lalu aku pergi begitu saja dan sempat tidak pulang ke rumah beberapa hari. Aku tahu, ibu sangat merasa bersalah kepadaku. Kini aku hanya bisa membayangkan pesona-peson potretnya. Dan kini aku memasuki kamar ibu. Di ujung hari, ibu terlihat sangat letih. Keletihannya sangat terlukis jelas di raut wajah tuanya. Tetapi, ibu selalu ingin sekali menenggelamkan rasa letih itu, jika bertatapan muka denganku. Aku mengingat bayangan ibu yang tengah tertidur pulas dalam alunan gelap malam, di balik senyumnya ternyata ibu mampu pulihkan jiwaku yang kadang goyah. Pesonanya masih jelas kurasa hingga kini, menemani hingga kudewasa. Derai air mata dan pengorbanannya tak akan tergantikan. “Terima kasih ibu.” Seraya aku mengucapkan kalimat itu, meneteslah air mata dari kelopak mataku. Setetes, dua tetes, tiga tetes, hingga menjadi beribu-ribu tetesan air mataku untuk ibu. “Apa yang harus ku perbuat, agar ibu bisa tersenyum di alam yang berbeda denganku? Apa yang harus ku lakukan, agar ibu bisa merasa puas telah melahirkan aku di dunia ini? Tuhan, beri aku jawabanMu” doaku.
            Beberapa bulan kemudian setalah ibu meninggal aku merasa kesepian setiap harinya. Tugasku kini menggantikan tugas ibu sebagaimana mestinya. Mencuci pakaian di sungai, membersihkan rumah, memasak untuk diriku sendiri, dan banyak tugas yang harus kukerjakan. Pagi ini, beberapa lembar pakaian menumpuk di dalam ember pakaian. Ku ambil, lalau ku bawa ke sungai untuk kucuci. Keluar rumah dengan ember yang ku gendong di pinggang, berkelok manja layaknya seorang gadis yang telah mendapatkan pujaan hati tercinta. Senyuman yang kuulaskan adalah senyum manjaku, yang dulu pernah terlihat oleh ibu, meskipun tidak sesering ini. Rambutku kini semakin memanjang dan bertambah tebal nan hitam. Dulu ibu sering memberiku lidah buaya untuk perawatan rambutku. Aku berjalan diiringi oleh bebarapa ekor  itik yang baru menetas selang beberapa hari lalu, dan lembut belaian semilir angin yang menyentuh kulitku. Rambut terkibas terkena hembusan angin yang memberi rasa kesejukan yang menentramkan hati. Aku turun melalui tangga yang terbuat dari tumpukan-tumpukan tanah liat. Hampir mirip seperti punden berundak. Banyak batuan cadas yang terdapat di pinggiran maupun di tengah-tengah sungai. Penduduk sekitar tak mengerti apa maksud dari kata ‘sungai’ yang tau hanyalah kali. Air ini begitu dingin nan bening. Sehingga banyak tumbuhan dan hewan yang bernaung di bawahnya. Alirannya yang tak begitu deras. Sungguh suasana yang sangat indah. Setelah mencuci pakaian,aku segera mandi di sungai yang sama. Masih seperti dulu. Ketika ibu memandikan aku di sungai ini. Bermain kecipak air dan bermain dengan gelembung-gelembung sabun. “Tapi itu dulu. Semua telah hilang. Hanya ada kenangan-kenangan manis yang bisa kurasakan” desahku. Tiba-tiba, aku mendengar suara guntur yang menggelegar. Angin berhembus sangat kencang. Di tepi sungai, aku kalang kabut mencari bantuan. Hujan turun di tengah-tengah guntur dan angin kencang. Aku segera berlari menuju rumah. Ku biarkan cucianku di pinggiran sungai. Aku masuk, lalu mengunci  pintu rapat-rapat. Lalu mendekam di dalam kamarku. Hatiku kalut, pikiranku kalang kabut, dan rasa yang mengikutiku sangatlah kecut. “Mungkin, ku buat tidur sudah tidak terdengar lagi semua ini.” Batinku. Lalu, aku pun tertidur pulas di atas ranjang tanpa kasurku.
            Dalam keheningan siang yang masih sedikit mendung, ada yang memanggil-manggil namaku. Tidak hanya memanggil, tetapi juga berteriak menyebut namaku. Aku berpikir sejenak, “mungkin suara ibu atau ayah?” tetapi, itu bukanlah suara ibu atau ayah. Suara seorang lelaki yang sedang menyebut-nyebut namaku.
 “Tina, adakah kau di dalam rumah itu?” tanyanya.
Dengan lirih aku menjawab, “Iya aku ada di dalam sini. Siapa kamu?” tanyaku balik. Aku sangatlah takut dengan keadaan seperti ini. Menjawab pertanyaan dari salah satu orang yang belum pernah kukenal sebelumnya.
“Tina, aku rindu kamu. Tidakkah kita pernah bertemu? Saat itu, kau ada dalam pelukanku. Aku ingin memelukmu sejenak. Ijinkan aku memelukmu, Tina.” Jawabnya.
Seraya aku mengingat, “Siapa yang pernah memelukku, kecuali ayah dan ibu?” tanyaku dalam hati. “Tuhan, siapakah dia? Apa dia adalah bagian dalam hidupku?” aku memohon doa kepada Tuhan.
“Tina, tidakkah kau pernah mengucap kata cinta kepadaku? Apakah kamu melupakan itu semua, Tina?” Tanyanya kembali.
“Oh, Tuhan. Apakah ini hujan? Aku pernah menyatakan rasa cintaku kepadanya. Apa yang akan terjadi kepadaku, di saat hujan telah jatuh hati kepadaku, seperti aku telah jatuh hati kepada hujan. Aku ingat, di saat aku terjatuh dan terluka, hujan datang menemaniku, memelukku, meskipun itu tak dapat kurasakan secara langsung. Aku ingat, aku selama ini mencintai hujan. Apakah aku sudah gila dalam hal ini? Aku cinta pada hujan. Apakah mungkin hujan dapat memberiku rasa cinta dan sayang yang tulus kepadaku?” kecapku. Aku langsung menerawang masa-masaku dulu. “Aku sama sekali tidak mengenal perjaka di desa ini. Lelaki yang ku kenal hanyalah ayahku dan orang-orang lain yang dekat denganku. Sama sekali tidak ada satu perjakapun yang mau meminangku. Teman sepermainanku dulu, Gusti, kemana dia sekarang? Apakah aku kurang cantik?” tanyaku sembari mengelus pipiku dengan telapak tanganku.
“Tina, sungguh aku rindu kamu. Kemarilah, beri aku sedikit waktu untuk kuhabiskan hanya bersamamu. Ayo Tina, tunjukkan bahwa kamu benar-benar sayang dan cinta kepadaku!” teriaknya kembali.
Aku semakin merinding melihat hal ini. Ini bukan lagi khayalan. Ini kenyataan, bukan? “Hujan, benarkah itu suaramu?” tanyaku penasaran.
“Iya, Tina. Inilah suaraku. Dan aku akan menjawab pertanyaanmu yang dulu. Siapkah kamu mendengar jawaban yang akan kuberikan kepadamu?” tanyanya balik kepadaku.
“Pertanyaan apa yang pernah kuberikan kepadamu, hujan?” tanyaku.
“Pertanyaan tentang, apakah aku juga mencintai dan  menyayangimu. Setelah kamu memberanikan diri telah mencintaiku.” Jawab Sang Hujan.
“Oh, hujan. Apa jawabanmu? Tolong, berikan jawabanmu sekarang. Aku sangat membutuhkan jawaban itu”. Mohonku kepada hujan.
“jawaban yang akan ku berikan kepadamu adalah, aku juga menyayangi dan mencintai dirimu. Sama halnya dengan kamu mencintai dan menyayangi aku setulus hatimu.” Jawabnya dengan nada yang halus.
Setelah mendengar jawaban dari Sang Hujan, aku segera lari berhambur ke luar rumah. Membuka pintu rumah, lalu duduk di ambang pintu. “Hujan, kemana dirimu?” tanyaku.
“Aku selalu ada di manapun kau ada, Tina. Karena baru kali ini aku telah dicintai oleh gadis secantik kamu” jawabnya dengan nada yang polos. “Aku akan membelai mesra rambut dan kulitku dengan cara angin yang sepoi-sepoi menyantuh kulitmu” lanjutnya.
Aku hanya tertegun. Aku telah mencintai hujan. Hujanlah yang kini telah menguasai hatiku. Hujanlah yang selalu menemaniku. Hujanlah yang menggantikan ayah dan ibu. Dan hujanlah yang memberiku perlindungan. Hari ini, aku sangat bahagia. Sang Hujan telah menjawab pertanyaanku. Aku akan terlelap malam ini. Dan berharap esok aku akan menjumpai hujan, sang pujaan hatiku.
Seperti biasa, aku melakoni tugas keseharianku. Setiap harinya, berangkat ke kali, membersihkan rumah, dan memasak untuk diriku dan Sang Hujan. Senyum yang mengembang kala aku aku bangun di waktu sang fajar merekah. Kubuka jendela di kamarku, dan kurasakan hangat sinar mentari yang menyentuh kulitku. Tiba-tiba, terlintas rasa rinduku kepada Sang Hujan. Rasa rindu ini begitu menyiksa batinku. Aku berjalan menuju pintu rumah dan keluar dari rumah. Menatap langit, dan berharap akan ada hujan. Tanpa kupandu, kakiku bergerak menghampiri pohon yang menjulang tinggi nan besar, yang berada tepat di samping rumah.  Lalu, aku berteriak “Hujan, mengapa kau lukai hatiku seperti ini? Mana janjimu yang akan mencintai dan menyayangiku sepenuh hatimu? Di saat aku membutuhkanmu kembali, mengapa kau tak ada di sampingku? Oh, Hujan. Kemarilah, sungguh aku ingin bertemu denganmu.” Seraya mengecap kalimat tersebut, aku menangis. “Sepertinya, aku telah terbohongi buaian-buaian manis hujan. Mengapa aku percaya begitu saja?” bisikku dalam hati. Inginku menjerit sekencang-kencangnya. Mengisyaratkan kepada semua yang ada di dunia ini, bahwa aku telah tertipu oleh hujan.tak mampu kumenahan semua emosi yang telah terbendung, aku berteriak sekuat tenagaku. Memanggil sang hujan. “Hujan, kau tak mendengarku? Aku merindukanmu di sini, hujan.” Rambut hitamku tergerai sepinggang. Kurasakan angin berhembus sangat kencang. Suara gemuruh guntur berdentuman di lapisan-lapisan langit. Langit menjadi hitam pekat, burung-burung berterbangan mencari tempat untuk berlindung. Daun-daun yang berguguran dari pucuk teratas pohon, hingga jatuh tergerai menyentuh telanjang kakiku. Tetapi, tak ada setetes airpun yang turun dari langit. Suara angin berderu, bernyanyian di telingaku. Aku tetap tak mau masuk ke dalam rumah. Menunggu sang pujaan hati datang. Setiap orang yang melintas di depan rumahku, pasti akan menyangka bahwa aku sudah gila. Terserah orang berkata seperti apa, toh ini juga untuk kebaikanku. Dengan tiba-tiba, semua persendianku merasa lemas. Tubuhkupun terjatuh bagaikan kertas yang terhempas angin. Aku terduduk lunglai. Sepertinya, sendi-sendi di tubuhku sudah tak mau berkompromi denganku. Wajahku memandang langit, mataku memerah, sembap, dan berair.
Karena lelah, aku memasuki rumah, dan aku tertidur di dalam nyanyian siang yang mendung. Aku merasakan kulitku yang dingin, dan aku mendengar gemericik air hujan. Tiba-tiba, aku terbangun dengan setengah tak sadar. Aku keluar rumah, dan berdansa dengan hujan. Diiringi musik yang berasal dari guntur dan petir. Ditemani dengan angin yang berhembus, seakan-akan angin-anginpun juga ikut menari bersama hujan. Kini aku sadar, aku telah berprasangka buruk kepada Sang Hujan. Berputar-putar, tertawa bangga, dan merasa puas dengan apa yang kuimpikan.
 “Hujan, aku cinta kamu”. Kata yang terlontar dari mulutku.
“Aku juga sangat mencintaimu, Tina”.
“Hujan, pertemuan kita sudah dulu ya? Kita smabung lain waktu”. Sambungku.
Aku lalu berlari memasuki rumah, mengunci ountu rapat-rapat. Dan aku mengembangkan senyum kepuasanku hari ini. Aku dapat menguasai hujan, hujan telah menjadi milikku. Aku langsung berjalan menuju kamarku, dan membuka lemari, lalu eku segera mengganti pakaianku yang basah. Setelah aku mengganti pakaian, kudengar pintu depan terketuk. Aku melonjak dan sedikit kaget. Aku langsung membuka pintu, dan di balik pintu terdapat Pak Dirman dan Pak Joko, tetanggaku. Aku mempersilakan beliau untuk masuk dan duduk di kursi seadanya.
“Mari pak, masuk dan duduk di tempat seadanya. Maaf sebelumnya pak. Rumah saya tak sebagus rumah bapak”. Aku membuka percakapan di antara kami bertiga.
“Apa yang bisa saya bantu, pak?” Imbuhku.
“Kami berdua kemari ada resuatu yang harus kami sampaikan kepadamu, Tina. Aku harap kamu tidak keberatan”. Jawab Pak Dirman.
“Sesuatu apa itu, pak?” tanyaku kembali.
“Begini Tina, apa hubungan kamu dengan hujan?” tanya Pak Joko kepadaku.
Aku tak bisa menjawab apa-apa. Aku hanya bisa tertegun dengan semua ini. Hanya hujanlah yang mampu menemani hari-hariku. Pak Joko dan Pak Dirman menatapku dengan penuh tanda tanya. Aku tertunduk, tak mau melihat wajah beliau-beliau. Wajahku terlalu hamis dan kotor, karena aku tidak bisa mempertanggungjawabkan semua perlakuanku yang mungkin dapat merugikan banyak orang.
“Banyak warga yang menyangka bahwa kamu sudah gila. Saya sangat prihatin sekali. Coba kamu mau jujur dna terbuka kepada kami berdua”. Kecap Pak Joko dan diikuti anggukan yang mengiyakan jawaban oleh Pak Dirman. Aku langsung mendongak, seulas senyum kulukiskan di raut wajahku.
“Aku mempunyai hubungan khusus dengan hujan, pak. Karena saya merasa, dengan keadaan saya seperti ini, saya tidak pernah didekati oleh seorang perjaka di desa ini. Karen itu, saya merasa saya cinta kepada hujan. Bukan cinta kerena rasa senang saja, tetapi rasa cinta kerena hujanlah yang mempu merebut hati saya. Jadi, saya mohon kepada bapak, untuk membolehkan saya merajut hubungan ini dengan hujan”. Pintaku.
“Baiklah, kalu begitu. Kami pamit dulu” ucap Pak Joko, yan g diikuti oleh Pak Dirman. Mereka beranajak dari tempat duduknya. Lalu pergi tanpa meninggalkan satu pesan untukku. Aku menatap punggung mereka, yang sudah mulai pergi meninggalkanku. Aku merekam semua ucapan-ucapan beliau. Dan rekaman itu masih tersimpan jelas di memori otakku. Aku menuju pintu, dan menutupnya. Lalu, aku masuk ke dalam kamarku. Aku memutar kembali rekaman itu. Sangat jelas, sesungguhnya Pak Dirman dan Pak Joko, sangat kecewa terhadapku. Aku mencoba membaringkan tubuhku yang lemas ini di atasamben yang sudah kusam. Memandang langit-langit rumah, melihat dua ekor laba-laba yang sedang berada di jaringnya. Seakan, lelaba itu membagi kasih dengan pasangannya. “Andai aku seperti laba-labai itu. Ah! Sangat tidak mungkin! Tak ada satu perjakapun yang meminangaku. Atau, hujan saja yang menjasi perjaka?” kataku dalam keheningan senja. Tanpa terasa, aku pun tertidur. Di ufuk barat, matahari mulai mencari tempat sembunyiannya.
Setelah matahari hilang di balik garis cakrawala, bergantilah dengan langit yang bertaburan bintang. Aku tertidur sangat pulas, bintang di atas pasti melihatku. Dan tiba-tiba, bintang-bintang itu hilang. Di makan oleh ganasnya langit mendung. Dan muncullah hujan berteman dengan petir dan angin yang berhembus kencang. @ku tak bangun dengan keadaan alam seperti itu. Tetap kuteruskan mimipiku. Hujan sangat murka denganku kini. Hujan dan kawanannya merusak padi-padi di desa kami, yang mulai panen. Dan mereka yang membanjiri sawah, sehingga padi-padi kelebihan air. Aku tetap ingin melanjutkan mimpiku. Kerena aku tau, esok tak ada kejadian yang sangat spektakuler seperti kejadianku ini.
Malampun berganti dengan pagi. Aku dibangunkan dengan adnaya suara kokok ayam hutan. Tiba-tiba, ada suara yang sangat ganjil di telingaku. Suara seperti orang demo. “Mungkin, mereka demo kepada Pak Kepala Desa” batinku. Tetapi, setelahnya, ada dua tiga orang warga yang memanggil namaku “Tina, cepat keluar kau dari rumahmu! Atau, jika kau tak keluar, kami akan menghanguskan rumah tuamu ini! Ayo, cepat keluar!” salah sorang warga yang mewakili semua warga satu desa. Dengan tergopoh-gopoh, aku keluar rumah, ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Stelah kubuka pintu rumahku, aku dilempari sbuah batu berukuran sedang, tepat mengenai wajahku. Aku terbungkuk lemas dan kesakitan. Aku diangkat seorang warga, dan diiring mengelilingi desa. Dan berakhir d ibalai desa. Di sana, lebih banyak orang yang sudah menungguku. Aku didudukkan di sebuah kursi kayu, dan tali yang melintas di badanku. Aku tak bisa bergerak. Aku menghadap Pak Kepala Desa, Pak Burhan dengan bijaknya, beliau berkata “Tina, kamu yang sudah membuat orang di desa ini gagal panen. Karena hujan, kamu yang membuat sapi-sapi di desa ini mati”. Ucapnya. “Aku tak tau dengan ini semua. Tolong, aku tidak mengerti apa-apa” jawabku dengan isakan tangis. “Bohong, dia pak! Dia yang memanggil hujan untuk membuat kita gagal panen!” jawab seorang warga. Aku hanya menggelengm karena semua pernyataan yang mereka berikan tidak sama denganku.
“Jujurlah saja, Tina!” Kata Pak Burhan.
“Saya jujur, pak. Saya berani sumpah, saya tidak mengerti ini semua.” Jawabku memohan kepada Pak Burhan.
“Halah, paling juga sumpah palsu yang kamu lakukan!” teriak sorang warga kepadaku.
“perhatian semuanya, Tina tetap tak mau jujur. Untuk itu, mari kita beri hukuman yang setimpal! Kamu tau kan Tina, di desa ini jika ada salah dari seorang warga yang salah, pasti akan mendpat hukuman yang setimpal pula! Tidakkah, itu peraturan di desa ini? Benarkan warga?” tanya pak Burhan. Dengan kompaknya, semua warga yang hadir dib alai desa mengucapkan “Ya”.
Aku tetap mendapat hukuman yang sepantasnya. Aku dipukul menggunakan benda-benda tumpul. Darah merah mulai bercucuran hampir di setiap anggota badanku, hingga tak sadrkan diri. Dengan sadisnya, mereka masih melukai kulitku dengan pisau, dan membuangku di sebuah tempat terpencil, di lembah gunung. Entah, aku tak tau mengapa sampai hati mereka melakukan itu kepadaku. Aku tertidur di atas tanah, dan dikerubungi beberapa ekor semut. Aku sudah mati. Tiba-tiba, hujan turun lagi. Apa ini maksudnya? Dengan segenap jiwaku yang masih tersisa, aku merasakan penyesalan dari hujan. Hampir setiap hari hujan menemaniku disini, hingga diriku berbuah menjadi tanah kembali. Inilah kisahku yang tiada habisnya dengan hujan.